Seminar Teknik Industri Universitas Pamulang tahun ini, berlangsung tanggal 19 Januari 2019 di Auditoriun Universitas Pamulang Surya Kencana yang dihadiri oleh dua ribu mahasiswa . Angka yang fantastis dalam suatu  seminar nasional yang dilakukan saat libur semester.

Gambar : Penutupan Seminar dengan Foto Bersama civitas akademika

Universitas Pamulang

Dalam seminar industri kali ini tema yang diusung adalah Revolusi Industri 4.0 sebagai peluang dan tantangan di Era Generasi Milenial dimana saat ini Teknik Industri harus mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan yang dapat mendorong terciptanya perekonomian digital yang matang sebagaimana rangkuman materi seminar berikut:

Menurut Dr. Martinus Tukiran, MT (2019) memaparkan Studi Millennial telah menemukan bahwa: • 64% dari mereka mengatakan itu prioritas bagi mereka untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. • 72% ingin menjadi bos mereka sendiri. • Jika mereka memiliki bos, 79% dari mereka ingin bos itu melayani lebih banyak sebagai pelatih atau mentor. • 88% lebih memilih budaya kerja kolaboratif daripada yang kompetitif. • 74% menginginkan jadwal kerja yang fleksibel. • 88% menginginkan “integrasi kehidupan kerja,” yang tidak sama dengan kehidupan kerja seimbang, karena pekerjaan dan kehidupan sekarang berbaur bersama tanpa terpisahkan.

Selanjutnya, Dr. Ir. R. Harry Arjadi, M.Sc, (2019) sebagai peneliti utama di LIPI mengatakan bahwa Kekuatan pendorong di balik perkembangan ini adalah digitalisasi ekonomi dan masyarakat, yang berkembang pesat. Ini mengubah cara produsen dalam memproduksi dan bekerja di seluruh dunia, setelah melalui tahapan sebagai berikut ini : Setelah mesin uap, ban berjalan, elektronik, dan TI, kini menjadi pabrik cerdas yang memimpin revolusi industri keempat.

Lebih jelas, Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M. Eng., PhD (2019) sebagai Head adviser Nano Center Indonesia menjelaskan bahwa Saat ini beberapa jenis model bisnis dan pekerjaan di Indonesia sudah terkena dampak dari arus era digitalisasi  dapat dilihat  Toko konvensional yang ada sudah mulai tergantikan dengan model bisnis marketplace.  Taksi atau Ojek Tradisional posisinya sudah mulai tergeserkan dengan moda-moda berbasis online. Perubahan dapat dirasakan dengan melihat  alur indstri di bawah ini:

 

Industri 1.0

  • Penemuan Mesin Uap mendorong munculnya mesin2 industri
  • menggantikan kerja manusia

Industri 2.0

  • Penemuan listrik
  • dan assembly line yang meningkatkan produksi barang

Industri 3.0

  • Inovasi teknologi
  • komputer &
  • informasi
  • mendorong
  • otomatisasi produksi
  • berskala besar

Industri 4.0

  • Kegiatan
  • manufaktur
  • terintegrasi
  • dengan teknologi
  • wireless dan big
  • data secara masif

Perubahan pola tersebut perlu adanya Strategi Menghadapi Era Digital. Lalu Bagaimana Merespon Masa Depan? Menurut Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M. Eng., PhD (2019) menjelaskan beberapa poin, yaitu:

  1. Komitmen peningkatan investasi di pengembangan digital skills
  2. Selalu mencoba dan menerapkan prototype teknologi terbaru, Learn by doing!
  3. Menggali bentuk kolaborasi baru bagi model sertifikasi atau pendidikan dalam ranah peningkatan digital skill
  4. Dilakukannya kolaborasi antara dunia industri, akademisi, dan masyarakat untuk mengidentifikasi permintaan dan ketersediaan skill bagi era digital di masa depan
  5. Menyusun kurikulum pendidikan yang telah memasukan materi terkait human-digital skills

Strategi diatas dapat menjawab Tantangan Teknik Industri Masa Depan yang diantaranya Membangun kolaborasi dan tim yang solid, Membuat perencanaan kolaboratif, Membangun sistem untuk pengendalian kolaborasi, Melakukan koordinasi Penguasaan teknologi mengolah big data untuk  menentukan keputusan masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *