Oleh : Agus Mulyono, S.T, M.M

TENTU kita sadar bahwa kehidupan manusia akan selalu berubah secara dinamis sesuai dengan perkembangannya. Karena semuanya pasti berubah kecuali perubahan itu sendiri. Virus Corona yang pertama kali merebak di Wuhan China dan kemudian menyebar hingga lebih dari 211 negara di dunia telah mengubah dunia secara keseluruhan.

Begitu banyak perencanaan dan target yang harus dikoreksi atau bahkan dirombak dan disusun ulang untuk menyesuaikan situasi dan kondisi terkini. Pandemi virus Covid-19 telah memberikan perubahan yang sedemikian cepat dan drastis pada berbagai aspek kehidupan manusia, baik dalam bisnis-usaha, pendidikan, sistem kerja, sosial kemasyarakatan bahkan dalam kegiatan peribadatan keagamaan. Bahkan hingga saat ini belum ada indikasi penurunan kurva pandemi Covid-19 di Indonesia.

Penyebaran virus yang belum terkendali membuat Pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang telah memaksa masyarakat untuk tetap berdiam diri dalam rumah serta menghentikan sementara mobilitas dan aktifitas yang biasa dilakukan. Manusia dalam masa pandemi ini harus mampu untuk beradaptasi dalam situasi yang penuh ketidakpastian untuk bersiap menyongsong sebuah era baru setelah pandemi yang viral disebut kehidupan pola baru atau New Normal.

Seiring dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan kondisi ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi Covid-19 maka muncul peluang-peluang baru dalam pemasaran dan cara konsumen dalam belanja. Belanja dari toko online menjadi salah satu alihan aternatif konsumen dalam melakukan konsumsi yang biasanya dilakukan secara langsung dengan mendatangi toko atau mall. Perilaku belanja konsumen secara online mengalami peningkatan besar secara jumlah dan juga mengalami perluasan jenis produk yang dikonsumsi.

Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI merilis data peningkatan belanja online masyarakat di tengah pemberlakuan PSBB. Berdasarkan survei yang dilakukan di kawasan Jabodetabek selama 20 April-5 Mei 2020, mayoritas warga melakukan kecenderungan peningkatan belanja daring. Peningkatan tersebut digambarkan dari intensitas belanja yang sebelumnya hanya 1 hingga 5 kali dalam satu bulan, menjadi 1 hingga 10 kali selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan (Ni Putu Eka Wiratmini – Bisnis.com 24 Mei 2020).

Ferry Sandi, pada CNBC Indonesia 17 April 2020 menulis, Telunjuk.com sebagai E-Commerce Hub di Indonesia telah menghimpun data mengenai anomali penjualan Sembako di beberapa toko online di antaranya adalah Tokopedia, Shopee dan Bukalapak. Periode yang disurvei dalam rentang 2 Maret – 5 April 2020. Berdasarkan pernyataan resminya, Jumat (17/4), dari data yang diolah dapat diambil kesimpulan bahwa estimasi total transaksi di ke-3 E-Commerce selama pandemi Covid-19 ini berlangsung mencapai puncaknya pada saat setelah pengumuman kebijakan PSBB (31/03) yaitu sebesar 670.755 transaksi. Total estimasi penjualan selama periode ini pun cukup tinggi yaitu Rp 12,3 miliar.

Kita juga dapat menyaksikan secara kasat mata, panjangnya antrian pembelian di gerai makanan restoran yang non domestik seperti KFC, Pizza HUT, McDonald maupun domestik seperti Ayam Goreng Kalasan, Bebek Kaleyo maupun warung makan lainnya karena dalam masa PSBB adanya himbauan atau perintah untuk santap di rumah. Hal ini mendorong peningkatan yang tinggi terhadap layanan food delivery baik melalui sistem aplikasi seperti GoFood maupun order melalui telepon Customer Service Resto. Pergeseran perilaku juga terjadi, yang sebelumnya konsumen melakukan pemesanan makanan dan minuman untuk hal perayaan (celebration), kesenangan (pleasure), pengalaman (experience) untuk mencoba sesuatu yang baru dan membangun sebuah kebersamaan yang bersifat sesekali atau jarang menjadi sebuah kegiatan berulang dengan frekuensi yang tinggi dan bersifat rutin. Peluang dan potensi ini secara cerdik kemudian dibaca dan diambil produsen dengan membuat sebuah strategi pemasaran yang baru dengan model pembelanjaan berlangganan dengan memberikan diskon spesial bagi pembelanjaan dengan nilai tertentu.

Berada dalam rumah dalam jangka waktu lama juga mengaktifkan kembali hobi pribadi atau menambah ketrampilan baru dan meningkatkan keahlian yang sudah ada. Saat masa stay at home orang cenderung tetap beraktifitas sesuai dengan kesenangannya. Memasak, berkebun dan perbaikan kendaraan minor menjadi hal favorit. Sebagai contoh memasak selain sebagai mengisi waktu luang juga memastikan higienitas dari makanan yang dikonsumsi. Bahkan pada masa PSBB orang juga menggunakan waktunya untuk mencoba berbagai resep kue lebaran sendiri. Hasil riset dari MoZ, keyword yang paling dicari di Google dalam masa PSBB adalah family recipe dan home baking. Bagi para ayah, melakukan otak atik kendaraan bermotor juga menjadi kegiatan produktif selama istirahat di rumah dan mendekatkan ikatan emosi dengan anggota keluarga melalui waktu yang semakin intens.

Wabah virus Corona juga membawa dampak positif bagi menggeliatnya bisnis kuliner. Dalam mencegah penyebaran virus Covid-19, mengakibatkan banyak restoran yang harus tutup sementara operasinya khususnya yang berlokasi di dalam mal atau pusat perbelanjaan. Namun untuk menjaga omzet penjualan tidak mengalami penurunan drastis dan menghindari pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan beberapa restoran menerapkan strategi pemasaran baru dengan memberikan pelayanan penjualan produk mentah untuk diolah secara mandiri di rumah selain melayani penjualan secara take away dan delivery. Strategi pemasaran penjualan produk mentah siap masak atau makanan beku (frozen food) menjadi ujung tombak baru mempertahankan omzet penjualan karena konsumen merasa lebih mudah dan efisien dalam memasak produk tanpa perlu keahlian khusus.

Pandemi Covid-19 juga memaksa masyarakat berakselerasi dalam transformasi digital. Kebijakan dalam pendidikan yang menggunakan media daring (baca e-learning) dalam pembelajaran di masyarakat. Zoom dan Google Meet menjadi sebuah tren baru sebagai media dalam komunikasi dan pembelajaran. Hal ini membuat aplikasi tersebut saat ini menjadi salah satu kebutuhan bagi dunia pendidikan dan kerja. Orang tua (baca ibu rumah tangga) dituntut untuk mampu menguasai operasi teknologi digital dalam mendukung putra-putri mereka dalam proses pembelajaran.

Covid-19 telah secara nyata telah hadir sebagai sebuah seleksi alamiah dan mampu mengubah pola kehidupan manusia yang mungkin tidak terbayang sebelumnya. Perubahan ini tentu bagai 2 sisi dalam sebuah koin, memberikan sebuah ancaman namun dalam waktu yang sama juga memunculkan peluang besar yang membutuhkan ide kreatif dan inovatif dalam menyikapinya.

https://rakyatmerdekanews.com/2020/06/05/perilaku-konsumen-dalam-pandemi-covid-19/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *