Pemberdayaan Masyarakat Desa melalui Peningkatan Keterampilan Dan Kemandirian Masyarakat Desa Melalui Pelatihan Pembuatan Sabun Pencuci Piring Desa Suradita
Published on: 12 Jul 2026

Pengabdian kepada Masyarakat
Mahasiswa Program Studi
Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Pamulang melaksanakan kegiatan
Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan mengusung tema “Pemberdayaan
Masyarakat Desa melalui Pelatihan Pembuatan Sabun Pencuci Piring sebagai Produk
Rumah Tangga dan Peluang Usaha.” Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 26 April
2026 di balai warga RT.03/RW.07, Perumahan Griya Serpong Asri, Desa Suradita,
Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, dan diikuti oleh warga setempat dengan
antusias.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh dosen pembimbing, yaitu Taufik, S.T., M.T., yang memberikan arahan serta dukungan kepada mahasiswa selama pelaksanaan kegiatan. Selain itu, Ketua RT 05 Perumahan Griya Serpong Asri, Ayie Yunus, juga hadir sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan di lingkungan tersebut.
Kegiatan PKM ini
dilatarbelakangi oleh tingginya kebutuhan masyarakat terhadap produk rumah
tangga, khususnya sabun pencuci piring yang digunakan setiap hari. Penggunaan
yang bersifat rutin membuat masyarakat harus terus membeli produk tersebut,
sehingga dalam jangka panjang dapat meningkatkan pengeluaran rumah tangga.
Kondisi ini mendorong mahasiswa untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya
bersifat praktis, tetapi juga memberikan nilai tambah dalam bentuk peningkatan keterampilan
dan kemandirian masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menyampaikan pelatihan pembuatan sabun pencuci piring, tetapi juga menghadirkan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang lebih menyeluruh. Pendekatan ini menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, serta kesadaran masyarakat akan potensi yang dimiliki, sehingga mampu mendorong perubahan yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini mencakup beberapa aspek edukasi yang saling terintegrasi. Salah satu aspek utama adalah edukasi terkait bahan kimia yang digunakan dalam proses pembuatan sabun pencuci piring. Mahasiswa memberikan penjelasan mengenai jenis bahan, fungsi masing-masing komponen, serta cara penggunaan yang aman dan tepat. Edukasi ini menjadi penting agar masyarakat tidak hanya mampu membuat produk, tetapi juga memahami aspek keamanan dan kualitas dari produk yang dihasilkan.
Selain itu, mahasiswa juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya
keterampilan sebagai dasar dalam membangun kemandirian masyarakat. Keterampilan
yang bersifat sederhana namun aplikatif dinilai memiliki peran penting dalam
membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Dengan
memiliki keterampilan tersebut, masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung
pada produk yang tersedia di pasaran.
Edukasi mengenai efisiensi biaya juga menjadi bagian penting dalam kegiatan
ini. Mahasiswa menjelaskan bahwa dengan membuat sabun pencuci piring secara
mandiri, masyarakat dapat mengurangi pengeluaran rutin rumah tangga. Pendekatan
ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengelola keuangan secara lebih
efektif dan bijak, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Tidak hanya berhenti pada pemenuhan kebutuhan rumah tangga, kegiatan ini
juga membuka wawasan masyarakat mengenai peluang usaha yang dapat dikembangkan
dari keterampilan yang diperoleh. Sabun pencuci piring sebagai produk dengan
tingkat konsumsi yang tinggi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi usaha
skala kecil. Mahasiswa memberikan gambaran sederhana mengenai peluang tersebut,
sehingga masyarakat dapat melihat bahwa keterampilan yang dimiliki tidak hanya
bermanfaat untuk konsumsi pribadi, tetapi juga memiliki nilai ekonomis.
Dari sisi pelaksanaan, kegiatan ini dilakukan dengan metode yang
komunikatif dan interaktif. Penyampaian materi dilakukan secara sederhana agar
mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. Selain itu,
mahasiswa juga membuka ruang diskusi sehingga peserta dapat mengajukan
pertanyaan serta berbagi pengalaman yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Pada sesi praktik, proses pembuatan sabun pencuci piring ditunjukkan secara
langsung oleh mahasiswa dalam bentuk demonstrasi. Peserta mengikuti setiap
tahapan melalui pengamatan dan penjelasan yang diberikan selama proses
berlangsung. Untuk mendukung pemahaman peserta, mahasiswa juga membagikan memo
panduan pembuatan sabun pencuci piring yang dapat digunakan sebagai referensi
apabila masyarakat ingin mencoba secara mandiri di rumah.
Antusiasme masyarakat terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Hal ini ditunjukkan dari keaktifan peserta dalam mengikuti setiap sesi, mulai dari penyampaian materi hingga diskusi. Interaksi yang terjalin antara mahasiswa dan masyarakat menciptakan suasana yang hangat dan kondusif, sehingga proses penyampaian materi dapat berjalan dengan efektif.
Dari sisi pelaksana, salah satu anggota tim PKM menilai bahwa antusiasme peserta menjadi indikator keberhasilan kegiatan. “Kami melihat peserta sangat tertarik dan cepat memahami materi. Bahkan, beberapa sudah mulai bertanya soal cara menjual produk,” jelasnya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi peserta, panitia juga
memberikan doorprize kepada beberapa warga yang aktif selama kegiatan
berlangsung. Momen ini menjadi salah satu bentuk penghargaan sekaligus menambah
semangat peserta dalam mengikuti kegiatan hingga selesai. Salah satu perwakilan
warga yang menerima doorprize menyampaikan, “Kami mengucapkan terima kasih
kepada mahasiswa yang sudah berbagi ilmu kepada kami. Semoga ilmu yang
diberikan dapat bermanfaat dan bisa kami terapkan dalam kehidupan sehari-hari.”
Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa kegiatan ini memberikan kesan positif
serta manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kegiatan ini juga mendapat respon positif dari tokoh masyarakat setempat. Ketua RT setempat mengapresiasi inisiatif mahasiswa dalam menyelenggarakan pelatihan yang bermanfaat. “Kegiatan seperti ini sangat membantu warga, terutama ibu-ibu. Selain menambah keterampilan, juga membuka wawasan baru,” ujarnya.
Kegiatan pengabdian ini menjadi salah satu bentuk nyata peran mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan ke dalam kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong masyarakat untuk berkembang dan lebih mandiri.
Di sisi lain, masyarakat sebagai peserta kegiatan juga memperoleh manfaat
yang signifikan, baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan. Dengan adanya
edukasi yang diberikan, masyarakat diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang
telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, serta mengembangkan potensi yang
dimiliki secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, kegiatan PKM ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga memiliki potensi dampak jangka panjang. Integrasi antara edukasi keterampilan, pemahaman bahan kimia, efisiensi biaya, serta peluang usaha menjadikan kegiatan ini sebagai salah satu upaya strategis dalam mendukung pemberdayaan masyarakat.
Ke depan, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan cakupan yang lebih luas dan inovasi yang lebih beragam, sehingga manfaat yang diberikan dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap bahwa keterampilan yang telah dibagikan dapat menjadi bekal bagi masyarakat dalam meningkatkan kemandirian, serta membuka peluang untuk menciptakan usaha yang produktif dan berkelanjutan.
Dengan demikian, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban akademik, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembangunan masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan berdaya saing.
Artikel ini ditulis oleh Dani Muhammad Ramdani, Meida Utami, Parhan Puadi, Syamsudin, dan Krene Dwisartika D sebagai anggota kelompok 2 dari kelas TIDE003, Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Pamulang.




