Pemahaman Tentang Bahan Kimia Yang Digunakan Untuk Pembuatan Sabun Pencuci Piring Untuk Higiene Masyarakat Desa
Published on: 12 Jul 2026

Pengabdian kepada Masyarakat
Mahasiswa Program Studi Teknik
Industri S1 Univeesitas Pamulang (UNPAM) melaksanakan kegiatan Pengabdian
Kepada Masyarakat (PKM) yang bertema “Pemahaman Tentang Bahan Kimia yang
Digunakan Untuk Pembuatan Sabun Pencuci Piring Untuk Higiene Masyarakat Desa”. Kegiatan
ini berlangsung selama 3 hari, mulai dari 23 April 2026 – 25 April 2026, di
desa Griya Serpong Asri RT05/RW07, Kelurahan Suradita, Kecamatan Cisauk,
Kabupaten Tangerang.
Setiap hari, hampir semua rumah
tangga di desa maupun kota menggunakan sabun cuci piring tanpa pernah
benar-benar bertanya apa isi di dalamnya. Padahal, memahami komposisi bahan
kimia pada produk yang kita pakai setiap hari ini penting, terutama bagi masyarakat
desa yang sering kali mengandalkan sabun cuci piring tidak hanya untuk
membersihkan peralatan makan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga
kebersihan dan kesehatan keluarga secara keseluruhan.
Komponen utama dalam sabun cuci
piring adalah surfaktan, zat yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air
sehingga minyak dan kotoran yang sulit larut dalam air menjadi lebih mudah
terangkat dan dibilas. Surfaktan inilah yang membuat lemak di piring kotor bisa
"diikat" lalu terbawa air, bukan menempel terus di permukaan. Salah
satu jenis surfaktan yang paling umum dipakai dalam produk pencuci piring
adalah Sodium Lauryl Ether Sulphate atau yang dikenal dengan SLES, yang
berfungsi sebagai surfaktan utama, dikombinasikan dengan bahan tambahan seperti
gliserin dan amfitol untuk meningkatkan efektivitas pembersihan.
Selain surfaktan, ada juga bahan tambahan seperti gliserin yang berperan menjaga kelembapan kulit tangan agar tidak kering atau iritasi setelah dipakai mencuci. Bahkan, gliserin diketahui memiliki sifat antimikroba alami yang dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri pada spons dan peralatan dapur, sehingga ikut menjaga kebersihan alat makan dari kontaminasi bakteri. Selain dua bahan tersebut, sabun cuci piring biasanya juga mengandung bahan penguat (builder), pewarna, pewangi, dan pengental yang membuat produk lebih nyaman digunakan dan lebih awet di rak dapur.
Informasi ini sebenarnya penting bagi
siapa saja, tetapi menjadi sangat relevan bagi ibu rumah tangga di desa yang
menjadi pengguna utama produk ini setiap hari, para kader kesehatan desa atau
Posyandu yang sering memberikan edukasi soal kebersihan rumah tangga, serta
pemilik warung kelontong yang menjual produk pembersih dan perlu memahami apa
yang mereka tawarkan kepada pelanggan. Anak-anak dan remaja yang mulai
dilibatkan dalam pekerjaan rumah tangga juga perlu diajarkan cara aman
menggunakan sabun cuci piring, mengingat bahan kimia di dalamnya, meski umumnya
aman pada konsentrasi normal, tetap bisa menimbulkan iritasi bila digunakan
berlebihan atau tanpa sarung tangan saat kulit memiliki luka terbuka.
Pemahaman tentang bahan kimia sabun
cuci piring menjadi sangat penting terutama saat musim kemarau panjang ketika
ketersediaan air bersih di desa menjadi terbatas, sehingga masyarakat perlu
tahu cara menggunakan sabun seefisien mungkin tanpa mengurangi efektivitas
kebersihan. Selain itu, momen penting lainnya adalah saat ada program
penyuluhan kesehatan desa, kunjungan kader Posyandu, atau kegiatan PKK yang
membahas pola hidup bersih dan sehat (PHBS), karena edukasi mengenai bahan
pembersih rumah tangga sering menjadi bagian dari materi yang disampaikan.
Pemahaman ini juga relevan ketika keluarga mulai membiasakan anak-anak membantu
mencuci piring, sehingga orang tua bisa menjelaskan cara pakai yang aman sejak
dini.
Dampak dari pemahaman atau ketidakpahaman soal bahan kimia sabun cuci piring paling terasa di rumah tangga pedesaan yang sumber airnya terbatas, seperti daerah yang mengandalkan sumur, sungai, atau penampungan air hujan. Di wilayah seperti ini, penggunaan sabun yang berlebihan tidak hanya boros, tetapi juga berisiko mencemari sumber air jika limbah cucian dibuang sembarangan ke saluran yang berujung ke sungai atau sumur warga lain. Dampaknya juga terasa di dapur-dapur rumah tangga sederhana, tempat sabun cuci piring sering disimpan tanpa label yang jelas terbaca, atau dipindahkan ke botol lain tanpa keterangan, sehingga risiko salah penggunaan oleh anak kecil meningkat.
Alasan utamanya adalah karena sabun
cuci piring bersentuhan langsung dengan peralatan makan yang dipakai setiap
hari, sehingga residu bahan kimia yang tidak terbilas sempurna bisa berpindah
ke makanan dan akhirnya masuk ke tubuh. Pemahaman yang baik membantu masyarakat
desa menggunakan sabun secukupnya, membilas piring dengan benar, serta
menyimpan produk ini jauh dari jangkauan anak-anak. Selain itu, pengetahuan ini
juga mendorong masyarakat untuk lebih kritis dalam memilih produk, misalnya
dengan memperhatikan kandungan pada label kemasan, memilih produk yang sudah
terdaftar di BPOM, dan tidak mudah tergiur produk murah tanpa keterangan
komposisi yang jelas. Pada akhirnya, edukasi semacam ini menjadi fondasi
penting dalam mewujudkan pola hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga
desa, yang dampaknya bisa dirasakan hingga ke tingkat kesehatan masyarakat
secara lebih luas, termasuk menurunkan risiko penyakit yang berkaitan dengan
kebersihan alat makan seperti diare atau infeksi saluran cerna.
Penerapannya bisa dimulai dari hal
sederhana, seperti menggunakan sabun cuci piring sesuai dosis yang dianjurkan
pada label kemasan, tidak asal menuang banyak-banyak dengan asumsi "lebih
banyak sabun, lebih bersih". Masyarakat desa juga disarankan membilas
piring dan peralatan makan dengan air mengalir yang cukup, bukan hanya direndam
sebentar, agar tidak ada residu sabun yang tertinggal. Penyimpanan sabun
sebaiknya dilakukan di tempat yang jauh dari jangkauan anak-anak dan diberi
label yang jelas apabila dipindahkan ke wadah lain. Selain itu, warga desa
dapat mulai membiasakan diri membaca komposisi pada kemasan sabun sebelum
membeli, serta mengikuti penyuluhan kesehatan yang diadakan oleh Puskesmas,
Posyandu, atau kader PKK setempat untuk mendapatkan informasi yang lebih
lengkap dan terpercaya. Langkah-langkah kecil seperti ini, jika dilakukan
secara konsisten oleh banyak rumah tangga, dapat memberikan dampak besar
terhadap kualitas higiene dan kesehatan masyarakat desa secara keseluruhan
Pada akhirnya, sabun cuci piring
bukan sekadar produk pembersih biasa, melainkan bagian dari rangkaian upaya
menjaga kebersihan dan kesehatan keluarga sehari-hari. Dengan memahami apa yang
terkandung di dalamnya, bagaimana cara kerjanya, dan bagaimana cara
menggunakannya yang tepat, masyarakat desa dapat memanfaatkan produk ini secara
lebih bijak, aman, dan efisien, sehingga higiene di tingkat rumah tangga
benar-benar membawa manfaat optimal bagi kesehatan bersama.




