Logo

Pemberdayaan Masyarakat Panongan melalui Teknologi Pengolahan Sampah Organik Berbasis Maggot Black Soldier Fly BSF

Published on: 17 Okt 2025

Pengabdian kepada Masyarakat

Pengelolaan sampah di daerah perkotaan kian menjadi isu mendesak bagi pemerintah dan masyarakat. Di tengah laju urbanisasi yang cepat, volume sampah rumah tangga meningkat signifikan, terutama di wilayah-wilayah penyangga kota besar seperti Jakarta. Salah satunya adalah Desa Panongan, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, yang kini menghadapi tantangan serius dalam penanganan limbah rumah tangga. Dalam satu dekade terakhir, Panongan berkembang pesat sebagai kawasan suburban dengan pertumbuhan perumahan dan industri yang tinggi. Dampak positifnya, aktivitas ekonomi masyarakat meningkat. Namun, di sisi lain, peningkatan konsumsi harian memicu lonjakan volume sampah organik yang belum diimbangi dengan sistem pengelolaan yang efektif. Akibatnya, tumpukan sampah sering menjadi pemandangan sehari-hari dan menimbulkan masalah lingkungan baru.

Menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian masyarakat dari kalangan akademisi  dari Prodi Teknik Industri, Fakutas Fakultas Teknik, Universitas Pamulang di mana 2 orang dosen sebagai Narasumber yaitu Yudi Maulana. ST.,MM, Wahyu., ST.MM,  dan  dibantu mahasiswi Safiara Amanda Tama, Nuraini, Prety Ashari,  dan pemerhati menginisiasi program "Pemberdayaan Masyarakat Panongan melalui Teknologi Pengolahan Sampah Organik Berbasis Maggot Black Soldier Fly (BSF)", yang dilaksanakan pada 14–16 Oktober 2025 di Jl. Raya Masjid Al Muawanah No. 1, Desa Panongan, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. 

Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya Bernilai

Sampah organik merupakan jenis sampah dengan proporsi terbesar di wilayah perkotaan, terutama berasal dari rumah tangga, pasar, serta aktivitas industri kecil. Sayangnya, daur ulang sampah organik di daerah berpendapatan rendah dan menengah masih sangat terbatas. Di sinilah inovasi budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly) hadir sebagai solusi berkelanjutan. Maggot BSF (Hermetia illucens) merupakan larva dari sejenis lalat yang mampu menguraikan sampah organik hingga 60–70% dari total volume awal hanya dalam waktu singkat dan tanpa menimbulkan bau menyengat. Larva yang dihasilkan dapat dijadikan pakan ternak bernilai tinggi, sementara sisa media penguraiannya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik padat maupun cair."Teknologi ini bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Warga bisa memanfaatkan hasil budidaya maggot untuk dijual atau digunakan sendiri sebagai pakan ikan dan ayam," ujar salah satu fasilitator kegiatan pengabdian masyarakat.

Kolaborasi untuk Ekonomi Sirkular

Konsep perputaran ekonomi (circular economy) menjadi semangat utama dari program ini. Melalui pendekatan tersebut, limbah tidak lagi dipandang sebagai sampah, tetapi sebagai sumber daya yang bisa diolah kembali untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi.

Kegiatan pengabdian masyarakat di Panongan melibatkan unsur pemerintah desa, kelompok masyarakat, serta akademisi yang berperan sebagai pendamping teknis. Peserta diberikan pelatihan mengenai: Identifikasi dan pemilahan sampah organik, Teknik budidaya maggot BSF, Pemanfaatan hasil olahan sebagai pakan dan pupuk, dan Manajemen bank sampah terpadu berbasis ekonomi sirkular.

Menurut Tata et al. (2024), optimalisasi bank sampah melalui budidaya maggot BSF terbukti mampu mengurangi volume sampah organik secara signifikan dan membuka peluang usaha baru. Selain menjawab persoalan kebersihan lingkungan, pendekatan ini juga membantu mengatasi masalah pengangguran dan ketimpangan ekonomi masyarakat perkotaan.Program yang berlangsung selama tiga hari ini mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Banyak warga yang tertarik mempraktikkan langsung sistem pengolahan sampah dengan maggot di rumah masing-masing. Ke depan, kegiatan ini diharapkan menjadi pilot project desa hijau (green village) yang mampu menginspirasi wilayah lain di Kabupaten Tangerang.Dengan penerapan teknologi pengolahan sampah organik berbasis maggot BSF, Desa Panongan tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi beban TPA, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Inisiatif ini menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari skala lokal, ketika masyarakat, akademisi, dan pemerintah bersinergi untuk menjaga lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru. Terima kasih kepada Kepala desa Panongan Bapak Suhendi, Dr Rini Alfatiya. ST.MT., CMA  selaku Dekan Teknik  , BapakTedi Dahniar. ST.MT  selaku Kaprodi Teknik Industri.Universitas Pamulang.  Teman-teman selaku Tim penyelenggara PKM Prodi Teknik Industri, mahasisisi dan masyarakat Desa Panongan sudah berpartisipasi pada kegiatan PKM. Diharapakan dengan kegiatan ini dapat memberi dampak positif di tengah kehidupan masyarakat desa Panongan dan Lingkungan.


Berita Relative

  • Inovasi Produk Olahan Pisang Barangan Menjadi Cookies Sebagai Upaya Peningkatan Konsumsi Buah Pada Anak

    Teknik Industri

    5 Jan 2026

    Learn more
    Featured Image
  • Beri Pelatihan Lean Thinking untuk efisiensi Produksi UMKM: Prodi Teknik Industri adakan Pengabdian Di desa Bunar Tangerang

    Teknik Industri

    25 Apr 2026

    Learn more
    Featured Image
  • Dosen Teknik Industri Memberikan Sosialisasi Potensi K3 Untuk Menghindari Kecelakaan dalam Dalam Proses Produksi UMKM di Kelurahan Buaran Kecamatan Serpong Kota Tangerang Selatan

    Teknik Industri

    30 Apr 2026

    Learn more
    Featured Image
  • Dosen Teknik Industri Memberikan Sosialisasi Legalitas Usaha dan Nomor Induk Berusaha (NIB)

    Teknik Industri

    18 Mei 2026

    Learn more
    Featured Image